Jenderal Soedirman
lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana. Ayahnya, Karsid Kartowirodji,
adalah seorang pekerja di Pabrik Gula Kalibagor, Banyumas, dan ibunya, Siyem,
adalan keturunan Wedana Rembang. Soedirman sejak umur 8 bulan diangkat sebagai
anak oleh R. Tjokrosoenaryo, seorang asisten Wedana Rembang yang masih
merupakan saudara dari Siyem. Jenderal Soedirman memperoleh pendidikan formal
dari Sekolah Taman Siswa. Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru)
Muhammadiyah, Surakarta tapi tidak sampai tamat. Soedirman saat itu juga giat
di organisasi Pramuka Hizbul Wathan. Setelah itu ia menjadi gurudi sekolah HIS Muhammadiyah
di Cilacap.
Pengetahuan
militernya diperoleh dari pasukan Jepang melalui pendidikan. Setelah
menyelesaikan pendidikan di PETA, ia menjadi Komandan Batalyon di Kroya, Jawa
Tengah. Kemudian ia menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk,
dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia
(Panglima TKR). Soedirman dikenal memiliki pribadi yang teguh pada prinsip dan
keyakinan, Ia selalu mengutamakan kepentingan orang banyak banyak dan bangsanya
di atas kepentingan pribadinya, bahkan kepentingan kesehatannya sendiri.
Pribadinya tersebut ditulis dalam sebuah buku oleh Tjokropranolo, pengawal
pribadinya semasa gerilya, sebagai seorang yang selalu konsisten dan konsekuen
dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Pada masa pendudukan Jepang
ini, Soedirman pernah menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota
Dewan Perwakilan Rakyat Karesidenan Banyumas. Dalam saat ini ia mendirikan
koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan.
Setelah Perang
Dunia II berakhir, Jepang menyerah tanpa syarat kepada Pasukan Sekutu. Momen
tersebut digunakan Soekarno untuk mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia.
Soedirman dan pasukannya bertempur di Banyumas, Jawa Tengah melawan Jepang dan
berhasil merebut senjata dan amunisi. Saat itu pasukan Jepang posisinya masih
kuat di Indonesia. Soedirman mengorganisir batalyon PETA-nya menjadi sebuah
resimen yang bermarkas di Banyumas, untuk menjadi pasukan perang Republik
Indonesia yang selanjutnya berperan besar dalam perang Revolusi Nasional
Indonesia.
Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 12 November 1945, Soedirman terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang RI. Selanjutnya dia mulai menderita penyakit tuberkulosis, namun dia tetap terjun dalam beberapa perang gerilya melawan pasukan NICA Belanda yang ingin menguasai Indonesia kembali setelah Jepang menyerah.
Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 12 November 1945, Soedirman terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang RI. Selanjutnya dia mulai menderita penyakit tuberkulosis, namun dia tetap terjun dalam beberapa perang gerilya melawan pasukan NICA Belanda yang ingin menguasai Indonesia kembali setelah Jepang menyerah.
Perang besar
pertama yang dipimpin Soedirman adalah perang Palagan Ambarawa melawan pasukan
Inggris dan NICA Belanda yang berlangsung dari bulan November sampai Desember
1945. Pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Soedirman terlibat
pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12 Desember
1945, Soedirman melancarkan serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris
di Ambarawa. Pertempuran terkenal yang berlangsung selama lima hari tersebut
diakhiri dengan mundurnya pasukan Inggris ke Semarang. Perang tersebut berakhir
tanggal 16 Desember 1945. Setelah kemenangan Soedirman dalam Palagan Ambarawa,
pada tanggal 18 Desember 1945 dia dilantik sebagai Jenderal oleh Presiden
Soekarno. Soedirman
memperoleh pangkat Jenderal tersebut tidak melalui sistem Akademi Militer atau
pendidikan tinggi lainnya, tapi karena prestasinya.
Jendral Soedirman
tetap terjun ke medan perang saat terjadi agresi militer Belanda II di Ibukota
Yogyakarta. Saat itu Ibukota RI dipindahkan ke Yogya karena Jakarta sudah
dikuasai Belanda.Soedirman memimpin pasukannya untuk membela Yogyakarta dari
serangan Belanda tanggal 19 Desember 1948 tersebut. Dalam perlawanan tersebut,
Kondisi kesehatan Jenderal Soedirman sudah dalam keadaan sangat lemah karena
penyakit tuberkulosis yang dideritanya sejak lama. Yogyakarta pun kemudian
dikuasai Belanda, walaupun sempat dikuasai oleh tentara Indonesia setelah
Serangan Umum 1 Maret 1949. Saat itu, Presiden
Soekarno dan Mohammad
Hatta dan beberapa
anggota kabinet juga ditangkap oleh tentara Belanda. Karena situasi genting
tersebut, Soedirman dengan ditandu berangkat bersama pasukannya dan kembali
melakukan perang gerilya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
bahasanya yang sopan ya :D