Sahabat Untuk Selamanya
Langit di ufuk timur telah memancarkan cahaya-nya, kemerah-merahan tanda fajar pagi tlah tiba, kicauan burung menambah keramaian diatas suasana pagi yang masih membuta,
“Kukuruyuuuuuuuuk” ayam ber ko-kok.
ku terbangun dari lelapku dan bergegas dari tempat tidurku. Seperti biasa ku melakukan aktifitasku dan segera bergegas menuju sekolahku dengan membawa buku yang ku taruh dalam ranselku.
Ku berjalan menuju sekolahku, sesampai ku disekolah ku bertemu dengan teman terbaikku, teman yang sudah tiga tahun lamanya akrab dengan ku dan selama tiga tahun itu pula ku sekelas dengannya.
“Hai Fet” sapa Aprel .
“Hai juga Prel” sapaku balik.
“Ayo kita kekelas”
Dan segeralah kami menuju kekelas, seketika ku tiba dikelas, ternyata eman-teman yang lain sibuk mempersiapkan presentasi untuk mata pelajaran pertama ini agar presentasi terlihat bagus, kompak, dan tentunya menghasilkan nilai yang memuaskan.
“Fet ayo taro tasmu, dan ayo Fet kita harus segera nyelesaikan tugas
presentasi kita, soalnya dari kemarin kita tuh blom sempet ngejain”
kata Aprel.
“Ayo Prel, segera kita selesain tugas itu, dan kamu sof, ayo kamu juga ikut”
kataku.
Aprel dan Sofi merupakann teman-teman terbaikku, dan kita bertiga memang selalu
Bersama, disaat penuh canda dan tawa, maupun duka dan bisa dikatakan sebagai sahabat.
“Ayo kita keruang ayahku, kita cari diinternet” Aprel berkata.
Seketika itu bergegeslah kita bertiga ke ruang ayahnya Aprel, ayahnya Aprel merupakan seorang Kepala Sekolah sebuah SMA di sebelah sekolah SMP ku, terkadang Aprel, Aku, dan Sofi seketika ada suatu tugas yang begitu mendadak yang berhubungan dengan internet kita mengerjakan diruang ayahnya Aprel.
“ayo Prel,, cepet kita selesain, kita harus cari tentang bagaimana Negara
Malaysia” kata Sofi.
“iya – iya Pie” jawab Aprel.
Seketika itu kita sedang mencari materi tersebut namun disayangkan internet yang sedang dijalankan berjalan “LOLA (Loading Lama) dalam bahasa gaul anak sekarang”
“Prel, kayanya itu penting deh, copy Prel kita print” kataku seketika loading pun
berhasil.
“Cari lagi ya Prel” tambah Sofi berbicara.
Seketika itu koneksi internet dikomputer yang kami gunakan LOLA kembali.
“Yaa-aam-puun Prel, cepet napa, udah mau bel masuk ni sebentar lagi, tuh liat
deh jam” kata Sofi.
“Iya bentar lagi napa, sabar, ini lama” jawab Aprel.
“Ayo napa Prel” balas Sofi kembali.
“Yaudah dari pada lama kalian duluan aja ya ke kelasnya, nanti aku nyusul kok,
udah cepet, nanti takut gurunya dah masuk, takut nanti pas kelompok kita
ditanyain pada gak ada orangnya” jawab Aprel.
“Yang bener Prel gak apa-apa ? “ jawab ku.
“Iya, udah cepet sana” balas Aprel.
Segeralah aku dan Sofi bergegas menuju kelas, dan ternyata tak lama kemudian bel tanda masuk berbunyi, dan tak lama pula seketika guru mata pelajaran pertama pun datang. Dalam hatiku, dan jantung ku merasa deg – degan, “aduh Aprel kemana ya ? Kita kelompok kedua lagi” dalam hati ku berbicara. Dan teman ku Sofi hanya duduk terdiam di bangkunya.
“Ayo kelompok satu sudah siap untuk berpresentasi ? silahkan maju kedepan”
Guru itu pun berbicara.
“aduh bentar lagi, gawat!!” dalam hati.
Ternyata di tengah – tengah presentasi berjalan, tiba – tiba Aprel pun datang.
“Assalamu’alaikum Pak, maaf saya telat” Aprel berbicara.
“Wa’alaikumsalam, memangnya kamu dari mana ? itu baru ngerjain tugas ya ?”
jawab Guru tersebut.
“He…he” jawabnya cengingisan.
Lalu segeralah Aprel menuju tempat duduknya, dan menduduki kursinya, dan sambil seperti habis orang yang sedang berlari. Dan aku menghampiri tempat duduknya.
“Prel, udah selesai ?” Tanya ku.
“Iya udah, tadi print-nya sempe eror tau, untungnya gak lama bisa lagi, dan tadi
aku buru – buru kesini soalnya takut udah keburu dimulai, eh.. ternyata bener
udah dimulai” jawab Aprel.
“Alhamdulillah atuh ya Prel kalo begitu, yaudah kamu duduk aja dulu ya Prel,
itung – itung ilangin rasa capek kamu itu, aku mau balik ke tempat duduk ku ya”
balas ku.
Tak lama kemudian , setelah rasa lelah itu sudah mulai tidak tersa, Aprel menuju tempat duduk ku, dan ia pun tiba – tiba menangis, dan aku pun tak tau apa penyebabnya ia tiba – tiba menangis.
“Kenapa Prel ? ada apa ? coba kamu cerita baik – baik sama aku.” Tanya ku
padanya.
“Kesel aku sama Sofi, dia tuh bisanya cuman nyuruh – nyuruh aja !! kamu denger kan waktu tadi kita lagi ngerjain ini tugas ? emangnya menurut dia gampang apa ? dia anggep aku tuh apaaaan?!!??!?!!??” jawab Aprel sambil mengalir air dari matanya.
“Hmm.. udah ya Prel udah, jangan nangis lagi ya, sikap dia emang begitu, gak usah kamu tanggepin banget ya Prel, nanti dia juga bakalan nyadar kok, sabar ya teman , jangan nangis lagi, hapus air matanya yaaa J” jawab ku kembali.
Seketika itu tiba – tiba tanpa sengaja Sofi melihat kearah ku dan Aprel.
“Kenapa?” bisiknya di kejauhan.
“Gak apa – apa kok” jawab ku berbisik di kejauhan pula.
Tak lama presentasi kelompok satu pun telah usai, dan sekarang giliran waktunya kelompok ku yang maju.
“Silahkan untuk selanjutnya untuk kelompok dua presentasi kedepan kelas”
kata Guru tersebut.
“Baik pak” jawab kami bertiga.
“Bla… bla… bla…” presentasi pun berjalan.
Dan tak terasa prsentasi pun telah usai kami jalankan, dan kertas – kertas yang berisikan materi yang baru saja kita gunakan untuk presentasi tadi harus dikumpulkan, dan diserahkan pada Guru tersebut.
“Kok ini belum di jilid ?” Guru itu berbicara.
“Iya pak maaf, tadi kita belum sempet untuk menjilidnya, nanti saya akan menjilidnya dulu, baru nanti kami kumpulkan ke bapak” jawab salah satu dari kami bertiga.
“Yasudah kalian kembali ketempat duduk kalian” balas Guru tersebut.
“Baik pak” jawab kami.
Seketika kembali ketempat duduk Sofi berkata kepadaku.
“Eh Fet, tadi si Aprel kenapa ? gara – gara aku ya ?”
“Bukan kok, tenang aja bukan gara – gara kamu” Jawab ku.
“Ah jangan boong napa Fet, udah jujur aja gak apa – apa.” Balasnya.
“Udah, bukan Sofi tenang aja”. Balas ku.
Tak terasa ternyata pelajaran pun cepat berlalu, dan bel tanda istirahat pun berbunyi.
“Kriiiiiiinng”
Tiba – tiba Aprel menghampiri ku dan bertanya padaku.
“Fet tadi si Sofi bilang apa sama kamu ?” tanyannya padaku.
“Gak Prel, tadi dia cuman tanya kenapa kamu, aku bilang aja gak apa – apa” jawab ku.
“Atuh dia mah gitu banget, gak mau mikir, gak mau usaha, bisanya tuh cuman
nyuruh!” balasnya.
“iya Aprel, udah ya sabar aja gak usah kamu masukin hati J” jawab ku.
Ternyata sepanjang kejadian tadi, hingga waktu bel tanda pulang tlah berbunyi, mereka Aprel dan Sofi yang sekaligus teman sebangku, saling diam tanpa sapa sedikit pun, dan tidak seperti mereka yang biasanya.
“aduh, malah jadi musuhan begini ?!?! apa yang harus aku lakukan ? hmm.. aku harus buat mereka kembali lagi seperti biasa“ tanya ku dalam hati.
Aku berfikir bagaimana cara untuk mengembalikan mereka berdua seperti biasanya. Akhirnya rencana ku pun berhasil membuat mereka akrab, dekat kembali. Dan akhirnya dikeesokan hari mereka sudah seperti biasa kembali, mulai agak sedikit malu – malu tapi sebenarnya mau, hehehe…
Dan keakraban kami bertiga sudah kembali lagi bersemi, diselingi dengan pancaran senyuman dari wajah kami dan dengan jabatan tangan tanda “Maaf” yang saling terucap dari mulut kami, meminta agar saling bermaaf-fan , agar tiada yang perlu di bebani dalam hati dan fikiran.
 |
| Add caption |
…SELESAI…